Dalam perjalanan

Cerita ini hanyalah fiksi semata dan bukan berdasarkan dari kisah nyata, cerita hanyalah semata-mata khayalan fantasi semata dari penulisnya.

semua cerita di website ini dikumpulkan dari berbagai macam sumber. isi diluar tanggung jawab ceritadewasaseru.info

Playboy



Dapat uang hanya dengan Copy Paste

cerita dewasa

Aku kebetulan ke Makassar lewat Bus penumpang sekitar pukul 7.00 pagi untuk suatu tujuan penting. Selain aku, banyak penumpang lain dalam mobil tersebut. Aku duduk di bangku kelas dua bersama 3 orang lainnya yang sama sekali tidak kukenal.

DIKURSI  itu aku duduk nomor 2 dari kanan, sedang di sebelah kiriku duduk 2 wanita setengah baya. Namun di sebelah kananku seorang wanita entah gadis, janda atau istri orang sedang duduk tenang dan sopan. Usianya kutaksir sekitar 25 tahunan. Wajahnya sedikit putih dan menarik untuk ditatap karena nampak ceria yang menunjukkan sikap keramahan. Bibir dan mulut serta hidungnya memancing daya tarik tersendiri untuk dilumat. Bodinya cukup ramping yang dilapisi pakaian yang agak tebal karena terbungkus jaket warna biru. Rambutnya tidak kelihatan karena terbungkus kain berwarna hitam, sedang bagian bawahnya terbungkus kain warna biru tua.
*****
Bermula ketika mobil yang kami tumpangi banyak bergoyang akibat jalan yang dilaluinya banyak berluban dan mulai rusak-rusak kurang lebih 200 km dari daerah tempat tinggalku menuju kota Makassar. Saling bersentuhan dan berbenturan tubuh dalam mobil, sulit kami hindari. Awalnya persentuhan tubuh kami biasa-biasa saja. Tidak ada reaksi dan pengaruh apa-apa. Tapi lama kelamaan, akhirnya berpengaruh pula pada pikiran kotorku. Aku terkadang berpura-pura tertidur sehingga kepalaku bersandar dengan lemas ke wanita di sebelah kananku itu.

Aku sempat merasakan hawa yang sedikit hangat dari tubuh wanita itu. Ditambah pula dengan bau harum dari farfum yang digunakannya. Sepanjang dalam perjalanan, tubuhku lebih banyak condong dan bersandar ke wanita di sebelah kananku. Ketika aku membuka mataku sedikit, kulihat wanita setengah baya di samping kiriku memperhatikanku, sehingga aku pura-pura terkejut dan segera memperbaiki kembali dudukku seolah aku baru saja terbangun.

Entah wanita di samping kananku itu tidur atau tidak, tapi yang jelas kulihat matanya tertutup rapat. Tapi perasaanku mengatakan kalau ia pura-pura tidur, karena nafasnya terasa tidak teratur dan hawa yang keluar dari tubuhnya semakin lama rasanya semakin panas. Setelah mobil melaju kl. 30 km dengan kecepatan rata-rata 80 km perjam, hampir semua penumpang dalam mobil itu mulai ngantuk sehingga tak ada lagi saling memperhatikan gerak gerik antara satu dengan lainnya. Aku leluasa menyandarkan tubuhku pada tubuh wanita di samping kananku tapa ada lagi yang mengawasi.

Awalnya aku sangat ragu kalau wanita itu betul tidur lalu terbangun dan mempermalukan aku dalam mobil. Tapi setelah beberapa lama ia tidak bergerak sedikitpun bahkan nafasnya terasa semakin tak beraturan keluarnya yang diprkuat pula dengan kepalanya yang sedikit condong ke arahku, maka aku yakin kalau ia tidak keberatan atas sikapku itu, bahkan ia nampaknya sangat menyenanginya.

Dengan perasaan takut dan sedikit gemetar, aku coba gesekkan kepalaku ke lehernya lalu menyentuhkan daguku ke bahunya, tapi ia tetap tak bereaksi. Kuturunkan lagi mukaku menyentuh dadanya dan buah dadanya sekaligus, tapi ia tetap diam, bahkan nafasnya terasa semakin kencang. Sungguh nikmat rasanya menyentuh kedua bukit kembarnya yang empuk itu, meskipun dibalut dengan tiga lapis kain tebal. Setiap mobil bergoyang agak keras, akupun memanfaatkan untuk menekan wajah dan mulutku agar menyentuh putingya dengan harapan ia juga bisa terangsang seperti aku.

Sikapku ini masih tidak dihiraukan, sehingga aku pura-pura tersentak sambil menarik kepala lalu kujatuhkan kembali secara berulang-ulang. Kali ini aku lebih berani lagi menempelkan wajahku ke wajahnya yang memang agak condong ke arahku. Sengaja kegesek-gesekkan sehingga terasa halusnya dan nafasnya menyapu hidungku berkali-kali. Bahkan aku coba sedikit membuka mulut agar setiap mobil bergoyang aku mencium dan mengisap pipinya. Ia hanya terdiam dan lebih merapatkan pipinya, lalu aku coba lagi sentuhkan mulutku ke mulutnya atau bibirnya, namun tetap diam, malah ia sedikit gerakkan mulutnya seolah ia sambut bibirku.

Ketika pipi, mulut dan bibir kami saling nempel dalam keadaan tidur yang dibuat-buat, aku tidak akan menarik dan melepas lagi, bahkan setiap kali mobil bergoyang, akupun menggerakkan bibir dan sesekali mengisap bibirnya. Aku semakin penasaran dan tak tahan lagi berpura-pura tidur. Kucoba membuka mata dan menatap wajahnya sambil tetap menempelkan wajahku di wajahnya, tapi ia nampaknya bertahan untuk tetap menutup matanya.

Tanganku mulai gatal ingin bergerak menelusuri tempat-tempat sensitifnya, tapi aku masih ada keraguan. Akhirnya aku coba beranikan diri menjatuhkan lenganku kepahanya, ternyata ia tidak bergerak. Lalu kuturunkan sedikit demi sedikit ke selangkangannya dan menekannya berkali-kali bahkan aku berusaha menyentuh vaginanya dari luar, tapi kedua pahanya masih rapat. Jantungku terasa hampir copot ketika ia tiba-tiba melenguh keras dan menggerakkan kepalanya serta kedua pahanya, tapi ternyata hal itu membuatku lebih berani lagi.

“Hhmm.. Sstt.. Hh..” suara nafas itulah yang keluar dari mulutnya sambil membuka lebar kedua pahanya dan menyandarkan kepalanya lebih rapat lagi ke leherku, meskipun matanya masih tetap tertutup.

Sikuku lebih leluasa menyentuh benda hangat lagi montok terbungkus kain tebal seirama dengan gerakan mobil yang kami tumpangi. Mulutnya terasa panas menyentuh leherku yang sesekali kurasakan tertempel rapat yang membuat leherku sedikit basah. Hawa panas nafasnya sangat terasa menyapu pipi dan leherku. 99% aku yakin kalau ia menyadari sikapku sejak tadi, hanya saja masih ada 1% keraguanku karena matanya masih tertutup rapat. Tapi setelah aku mencoba mengisap keras bibirnya dan memasukkan tangan kananku ke dalam kain yang membungkus CD-nya lalu kutarik kepalaku bersandar kembali di kursi seperti sedia kala, matanya tiba-tiba terbuka pelan-pelan dengan sayu lalu memandangi wajahku yang sedang menghadap ke depan sambil ia tersenyum simpuh.

Pandangan dan senyum simpunya itu kulihat dari ekor mataku sehingga membuatku yakin 100% kalau ia berpura-pura tidur sejak tadi dan ia sangat menikmati semua tindakanku. Ia nampaknya tidak menolak tanganku yang masih menempel di atas CD-nya. Malah pahanya semakin terbuka, sehingga cairan yang membasahi CD-nya terasa licin di tanganku. Tapi aku segera berbisik dekat telinganya sambil menarik keluar tanganku.

“Mm.. maaff yah Mmbak.. Aku tak sadari diri. Aku khilaf” bisikku.

“Nggak masalah kok Mas. Biar aja. Sudah telanjur” jawabnya berbisik pula sambil memegang tanganku seolah melarangku mengeluarkannya.

“Turun di mana Mbak?” Tanyaku sambil memasukkan tanganku ke dalam CD-nya.

“Di jalan APR. Kalau Mas di mana?” ia balik bertanya usai menyebut alamatnya.

“Di jalan MR Mbak” jawabku sambil mengelus-elus bulu-bulu halus yang tumbuh pada kedua daging montok yang kurasakan dalam CD-nya. Sesekali pula kusentuh tonjolan daging mungil yang tertancap di tengah-tengah lubang yang terasa sangat basah dalam CD-nya itu.

Baru aku berpikir untuk mengajukan pertanyaan yang lebih inti lagi, tiba-tiba seorang wanita setengah baya di samping kiriku batuk keras yang membuat semua penumpang dalam mobil itu terbangun. Aku segera tarik keluar tanganku dari dalam CD si wanita di kiriku itu dan..

“Sebentar kita selesaikan Mas” katanya sambil memperbaiki tempat duduknya seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengan aku.

Kami tetap seperti orang yang tidak saling kenal. Namun tangan kami saling meraba dan ujung sikuku bertumpu rapat pada payudara wanita itu sampai mobil berhenti di depan warung nasi yang ada km 100 dari kota Makassar. Kami memberi kesempatan pada penumpang lainnya turun untuk makan. Setelah kami hanya tinggal berdua di atas mobil, kami mencoba saling meraba di bagian bawah karena takut dilihat oleh orang yang keluar masuk dari warung itu. Tanganku kembali menggerayangi vagina si wanita tadi, sedang ia menggerayangi kemaluanku tanpa membuka pakaian kami masing-masing.

Setelah kami saling terangsang dan merasa takut ada orang lain yang melihat kami, kami lalu turun dan sepakat ke belakang warung untuk buang air kecil. 3 pintu WC yang berjejer dalam keadaan terbuka dan kosong, lalu aku masuk ke WC yang kedua, sementara si wanita yang belum kutanyakan namanya tadi melangkah menuju WC yang terakhir.

Setelah kuperhatikan kiri kanan tidak ada orang lain yang melihat kami masuk, kami lalu beranikan diri menarik tangan si wanita itu masuk ke WC di mana aku masuk. Ia nampaknya juga ketakutan, tapi setelah ia menengok kiri dan kanan, iapun segera masuk. Lalu kututup pintunya dengan cepat dan melepas ikat pinggang serta memerosotkan semua celanaku sampai ke lutut hingga kemaluanku terlihat berdiri keras. Wanita itu nampaknya mengerti maksudku dan ia tak mau sia-siakan kesempatan ini, ia lalu menyingkap tinggi-tinggi rok panjang yang dikenakannya lalu menarik CD-nya keluar hingga lepas.

Dalam keadaan berdiri, ia kudorong sedikit ke belakan hingga bersandar ke dinding WC, lalu kutekan dan kujepitkan tubuhku ke tubuhnya sambil merenggangkan kedua kakiku. Ia pun segera memberi peluang padaku tanpa aba-aba. Ia membuka kedua kakinya lalu menarik kedua bibir vaginanya yang terlihat basah, berbulu halus, montok dan berwarna merah jambu dengan kedua tangannya. Ujung penisku segera kuarahkan ke lubangnya dan kutekan sedikit demi sedikit tanpa kami harus panetrasi lagi mengingat waktu kami sangat sempit.

Walaupun mulanya sangat sulit dan terasa sempit masuknya ujung penisku yang agak besar lagi keras sejak tadi itu, namun akhirnya masuk pula perlahan menembus dinding vagina si wanita itu setelah berulang-ulang kali kupaksakan dengan keras hingga membuatnya sedikit merintih dan seolah mau berteriak tapi mulutnya kututup rapat dengan tangan kananku. Aku tak sempat lagi berpikir saat itu apa ia perawan atau bukan, bersuami atau janda. Yang penting birahiku segera tersalur cepat di tempat itu.

Meskipun tanganku sangat gatal ingin meraba dan mengisap bukit kembar si wanita itu serta melumat bibirnya selama mungkin, tapi aku masih selalu sadar kalau waktu dan tempat kami sangat sempit dan terancam. Perhatianku hanya pada kemaluan kami dan ancaman yang sewaktu-waktu muncul dari luar. Kocokan penisku kupercepat sambil berdiri sehingga menimbulkan bunyi keciprat.. keciprat yang diiringi dengan deru nafas kami yang saling kejar tanpa teratur. Kedengarannya si wanita itu ingin sekali berteriak dan bersuara mengikuti gerakan pinggul kami, tapi nampak ia menahan dengan sekuat tenaga agar tidak mencurigakan dari luar.

Kami saling diam seribu bahasa, melainkan hanya kemaluan kami yang bicara dengan suara khas dengan makna kenikmatan mendadak. Setelah kurang lebih 10 menit kami saling menggenjot dalam WC itu, aku merasakan mulai ada cairan hangat yang mengalir dari ujung perutku menuju ujung penisku tapi aku merahasiakannya. Semakin kupompa semakin keluar dan rangkulan dan tekananku semakin keras hingga akhirnya terasa muncrat dan tumpah dalam rahim wanita itu.

“Mas, akhh.. Stts.. Uhhkk.. Aikhh.. Kamu keluarin di dalam yach?” tanya wanita itu sambil terengah-engah dan memandangiku.

“Iiyach.. Sayang. Terlanjur. Apa boleh buat” jawabku sambil mencium bibirnya, namun penisku belum kukeluarkan.

Belum sempat ia menyambung kata-katanya, tiba-tiba ia merangkulku dengan erat sambil tubuhnya terasa gemetar bagaikan orang menggigil. Ternyata ia pun mencapai puncaknya sesaat setelah aku mencapainya. Kami saling berpelukan lemas dan lunglai dalam keadaan berdiri. Tiba-tiba terdengar pintu WC di sebelah tertutup lalu kedengaran ada air yang jatuh. Kami tersentak terkejut dan segera melepaskan rangkulan lalu cepat-cepat merapikan pakaian kami masing-masing.

Aku coba buka pintu WC-nya perlahan lalu menengok kiri dan kanan kalau ada orang yang memperhatikanku. Tapi setelah kuyakini tidak seorangpun yang melihatku, aku buru-buru keluar yang diikuti pula oleh si wanita tadi dan langsung naik ke mobil tumpangan kami. Setelah kami duduk, kami lalu saling menatap sambil melempar senyum tanpa berbicara karena sudah ada penumpang yang duduk di belakan kami.

Kami tidak merasakan lapar hingga kami tiba di tujuan kami masing-masing. Selama dalam perjalanan dari warung ke kota tujuan kami, kami hanya tidur tanpa banyak gerakan lagi seperti sebelumnya. Setelah tiba di Makassar, kami kembali saling memandang wajah sambil tersenyum tanpa bisa berkata-kata. Aku berharap agar kami berdua bisa bicara banyak nanti setelah turun di terminal, bahkan aku berniat akan mencari tempat yang lebih aman dan lebih leluasa untuk melanjutkan pergulatan kami tadi di dalam WC.

Ternyata setelah kami turun di terminal, si wanita tadi tiba-tiba berlari masuk ke dalam sebuah mobil sedan yang telah diparkir tidak jauh dari tempat parkir mobil yang kami tumpangi lalu dengan segera melaju dengan cepatnya. Aku hanya sempat melihat tangannya terangkat tinggi-tinggi keluar lewat jendela. Aku sangat menyesal tidak menanyakan nama, alamat lengkap dan status serta pekerjaannya sewaktu di mobil. Aku hanya bisa menghela napas panjang tanpa bisa berbuat apa-apa lagi. Tapi setidaknya kami punya kenangan kisah nyata yang sungguh tak terlupakan nikmatnya kapanpun.

Hingga kutulisnya kisah ini, aku masih berharap bisa bertemu dengan wanita yang tidak jelas identitasnya itu. Mudah-mudahan kami masih bisa dipertemukan di atas mobil, sehingga kami bisa melakukannya lebih seru lagi. Sungguh suatu kenikmatan yang tak disangka-sangka dan tak direncanakan serta tak dapat ditemukan kembali.

Download kumpulan cerita dewasa

download cerita dewasa