Ray si penggoda: Kemelut Nyonya Tanuwidjaya

Cerita ini hanyalah fiksi semata dan bukan berdasarkan dari kisah nyata, cerita hanyalah semata-mata khayalan fantasi semata dari penulisnya.

semua cerita di website ini dikumpulkan dari berbagai macam sumber. isi diluar tanggung jawab ceritadewasaseru.info

Playboy



Ibu tiri menakutkan begitu kata sinetron tapi bagi Ray lain justru sebaliknya malah akhirnya jatuh cinta. Sejak dieprkenalkan lansgsung seusai resepsi pernikahan, itulah pertamakali meyakini kalau papaku tidak salah pilih, tante Sin cantik tinggi khas  jawa sangat berbeda dengan papaku yang masih keturnan china. Mamaku adasetngah darah  china-Bataknya. biar keren dikit aku msukan marga dari keluarga mamaku yang batak sehingga sering dipanggil dengan Raymond Siagian Lee, walaupun salah marga harus pihak ayah sehingga tambah nama belakang papaku Tanuwidjaya. Mamanya Raden Ayu Sintya prabardani dulunya sekretaris papa bertahun-tahun dan usianya sangat jauh saat ini saja  masih berusia 27 tahun beda 30 tahun dari papaku denganku, tapi papa sangat tanpan diusianya dan aku meyakini tante Sintya  sangat mencintai papa.

Saat libur kuliah musim dingin aku kembali ke indonesia sekalian kenalan dengan isteri papaku,s aat itu aku tidak hadir dalam perkawinan papa, akren sedang ujian dan libur selalam 7 bulan aku gunakan untuk bekjar di perushaan dan aku ditempatkan i cabang  sSrabaya, sehingga hanya sebulans sekali aku ke jakarta hanya menengok papa dan tentu saja tante sintya yang ternyata sangat enak diajak ngobrol dari situ aku meyakini wanita itu bukan sekedar cantik saja tapi cerdas, sebuah perpaduan langka antara kecerdasan dengan kecantikan khas jawa dan dari dulu aku terobsesi dengan wanita jawa.

Dan tanpa aku sadari aku sudah respect dan itu disadari sangat menakutkanku, takut perhatianku pada mamaku berubah dengan kehadiran tante sintya. Apalagi tante sintya tanpa menjaga jarak dan meperlakukanku layaknya seorang teman bisa curhat dan bisa juga berbagi hobby, yaitu komik. aku penggila komik, Banyak komik koleksiku yang hilang ternyata dimiliki wanita  itu.

Disisi  lain bagi sintya pernikahan itu diluar bayangannya, apalagi dia berasal dari trah Solo yang masih memegang tali adat, sempat perkawinannya terhambat dari eyang kakung yang belum tahu persis dan beda usia yang terlalu jauh, apalagi menikah dengan pemilik 12 perusahaan multi nasional yang usianya terpaut jauh sekali, tapi perasaan itu ditanamkan karena William seorang lelaki elegan dan sangat mengayominya seperti layaknya seorang ayah. Masalahnya transisi dari tadinya kerja kemudian harus diam dirumah dan mengatur semuanya jelas membuatnya ragu,  apa dia bisa mengkuti jalan kehidupan suaminya yang luar biasa sibuknya.

Ditambah kehadiran putra bungsu keluarga william jelas sangat mengganggunya, walau sebenarnya Raymon sangat baik dan sangat santun sikapnya seperti rata-rata keluarga Tanuwijaya. Tapi akhir-akhir ini Sintya membaca sifat agak lain dari sikap Ray yang ada kecenderungan menghindar, tapi dari sorot mata sipit itu ada sesuatu yang menawan yang hanya bisa dikatakan oleh kehalusannya sebagai seorang wanita , tanpa kata-kata, karena bahasa tak begitu penting saat perasaanya juga membutuhkan adanya keteduhan dan sorot mata lelaki muda yang penuh gairah dan dirinya merasakan rasa jenuh hidup sendiri tanpa teman dan tanpa kegaiatan yang bisa mengisi relung hantinya yang kosong.

Hal yang sama dirasakan Ray Reaksi Sintya-pun diartikan sebagai suatu kebutuhan semata dan tak bisa berbohong lagi kalau Ray-pun bisa mengisi sesuatu yang tidak bisa diberikan william. Semuanya sangat alami sekali dari pertemuan dan frekuensi pertemuan rutin melahirkan perasaan lain, mereka sering di rumah, dari obrolan kecil perusahaan dan kegiatan memasak disaat papanya sibuk merekonsiliasi keuangan perusahaannya di singapore, dari rasa sungkan berubah pada kegiatan yang menyambung layaknya dua anak muda yang terpaut tipis usianya, tapi Sintya lebih terlihat lebih dewasa dari usianya dan naluri lelaki itupun bisa terbaca sebagai bentuk kebutuhan sesaat akan eksistensi yang samar dan sebenarnya sangat menakutkannya dengan daya tarik putra bungsu suaminya itu.

Disaat Sintya berpaling, Ray mencuri pandang menikmati kecantikan khas dengan kulit mulus dengan rahang yang  rapuh, tapi pesona bibir wanita muda itu  yang membusur tipis tanpa polesan jauh lebih menarik ada sensualitiasnya.  tingginya mungkin 1,65 dengan bobot ramping bak seorang model. Sintya menarik secara pisikk perhatiannya. Sintya hanya bisa tersenyum pahit mengetahui ketertarikan  Ray ketika menatap drinyanya,  ada sesuatu yang tertahan dengan tingggi badan 1,82 cm Ray seperti lelaki raksasa yang rapuh, tapi punya pesona yang bisa menarik semua wanita yang dekat dengannya..bersamanya termasuk sintya mengakui itu,walau disadari sebagai sebuah kelalaian, tiba-tiba tersadar oleh perasaann itu.

Disadari bagi Ray juga perasaan sesaat ketika dia sendiri ingin melepaskan figur mamanya yang menghilang dari hidupnya, dia ingin mengganti dengan istri papanya, tapi ternyata tidak semudah itu bagi  Ray, tapi dengan melihat isteri papanya sangat luar biasa daya tariknya sampai dirinya ikut terlarut oleh suasana yang hampir melupakan batas sebuah komunikasi antara anak dengan ibu tirinya.

Dan beberapa kali dia merasa akan ada kendala hubungan dengan tante sintya akan mengalami suatu yang rumit diluar keinginannya. Justru disaat  keluarga Tanuwidjaya mempersiapkan pertunangan Ray dengan putri  sahabatnya di singapore untuk menjadi tunangannya dan Ray tidak tahu, karena pertunanagan ini terlihat lebih kental nuansa bisnis keluarga yang ingin disatukan. Christy Lee sebenarnya cantik, oriental, modist tapi sangat manja dan jelas punya sifat kekakank-kanakan yang tidak begitu disukai Ray. Tapi siapa yang bisa melawan keputusan wiliam Tanuwidjaya termasuk dirinya.

”Belum tidur..?”, sapa Sintya  mengejutkan lamunannya Ray dan dari sudut lorong bertirai muncul wanita yang sempat mengganggu setiap tidurnya dengan lingerie sutra putih yang dipadukan piyama sepadan. Rambutnya diikat berkepang satu, begitu cantik menampakan leher mulusnya yang jenjang.

”Belum, Aku bingung, tante dengan keputusan papa yang sepihak..”, begitu Ray curhat pada ibu tirinya. ”Papa tidak akan memutuskan kalau kamu juga tegas menolaknya”, sintya memberikan asumsi logis dengan keputsuan suaminya. ”kamu bicarakan lagi dengan papamu, kalau kamu sudah punya calon..” malam yang sunyi  yang menanggapi dengan senyum seolah masalah mudah. ”belum, tidak yakin sekali, aku hanya main-main sedikitpun tidak mencintainya, apalagi dia seorang bule dan papa belum tentu mau menerima Nadya Olsen, lagian dia juga sudah tunangan”, tukasnya sambil menahan beban yang berat.

Lagi-lagi mata sipit dengan rahang kokoh itu menatapnya tajam Sintya seolah mengatakan rasa ketertarikan melihat tubuh semampai mama tirinya dengan porsi menarik dengan kemeja putih yang dilipat dipadukan celana bertorso warna pasir yang khas, rambutnya lurus tergerai menutupi bahunya, lebih tebal saat digeraikan dan terlihat aura kecantikan begitu melenakan lelaki muda itu. Sintya memalingkan wajahnya, tapi senyum Ray begitu manis seolah menyanjungnya tanpa kata.’tante cantik dalam keremangan kirei, ada siluet malam..”,  kata ray membuat sintya tersipu. ”aku takut pada diriku sendiri, ada yang menahan sesuatu saat bertemu tante” ”maksudnya???’, sintya terdiam membaca kata-kata. ”no, imposible…jangan merusak sesuatu yang sudah alami..papamu sangat baik dan sangat mempercayai kalau suatu waktu akan mewarisi bakatnya” ”tante mencintai, papa?”, ray berbalik menguatkan kegundahanku, seperti pertanyaan Rena teman kuliahnya dulu yang sampai sekarang belum bisa dijawab sintya. ”of course, aku mengenal sebagai pribadi bijak dan mengayomi, seperti,..” ”Seperti papa sendiri, aku justru melihat tante lebih pantas jadi menantunya bukan suami…”, Ray menyerang dengan cepat seolah membaca jalan pikirannya. ”Sudahlah tante ngantuk…”, sintya menghindari dengan ketakutan sesuatu yang diperkirakan itu ternyata terbukti kalau putra bungsu suaminya ini menyukainya. ”Tidak tante, jangan terus berdalih kalau tante punya sesuatu…yang disembunyikan dan takut akan terjadi apa-apa dan ….tante harus mengakuinya..”

”No, tdak mungkin Ray..”, Sintya terdesak oleh suasana kegundahannya tapi Ray tidak bisa menahan diri lagi tubuh semampai isteri papanya itu direngkuhnya dengan penuh gairah dan jakun turun naik menahan gairah yang mungkin ditahan-tahan dan wanita muda itupun tak sanggup menahan gairah anak muda itu, tapi perlahan kabut menutupinya oleh setiap sentuhan khas Ray yang terlalu berani menurutnya..”ohh, tante begitu menggoda…bibir Ray menelsuru batang leher nan mulus itu dengan sentuhan dan jepitan bibirnya sementara sintya ikut larut oleh gairah yang beberaa pekan tidak didapatkan dari william. nafas  wanita itu itu terengah-engah oleh gairah ketika jemari  besar itu meranggum dadanya dengan belaian dan disusul remasan-remasan meyentuh seluruh permukaaan dadanya yang masih dibalut gaun malam. “Hentikan ray, ingat aku isteri papamu..ini tidak boleh terjadi..”, lagi-lagi tersadarkan, tapi ray malah semakin bernafsu menjilati tepian telinganya yang tidak bertindik. seiring desakan tubuh ray merapati tubuhnya.jemari lain meremas bongkahan panggul montoknya.bibir itu kembali mnedekari bibirnya tapi lagi-lagi dihindarinya. tiba-tiba prak sebuah amparan keras meyadarkan anak muda itu disusul kemarahan sintya yang berlalu meninggalkanya “tante bicaralah, aku minta maaf , aku hilap”, sayup-sayup terdengar suara anak muda itu, tapi sintya tak berami menemuinya ”Sudahlah Ray..jangan menambah semuanya  jadi rumit, biarlah dengan keadaan yang sudah terjadi.!.”, akhirnya sintya mencoba meredakan kemarahannya walaupun reaksi tubuhnya lain klentit kemaluannya masih berdenyut, dia keluar kamar tapi tiba-tiba ray kembali menyentuh dirinya. “Maafkan tatnte, aku tak bisa melerai gairah ketika tante begitu dekat,,”,  sambil menepis kembali jemari Ray yang ingin menyentuh sembulan payudara yang terlihat ketat dengan garis-garis bra yang menggurat sexy dalam balutan kemeja putihnya, tapi jemari itu lagi-lagi melnakannya, pesona anak muda itu tak bisa dilawannya,   hatinya begitu rapuh melihat sorot mata yang terus memburu. Sintya mendorong tubuh itu dengan lembut..Lelaki itu hanya tercenung, tapi sintya pun membiarkan birahi itu mengaliri sekujur tubuhnya oleh kenikmatan,  berahi wajahnya terasa panas dan berubah rumit, bibir mereka berpagut kuat melupakan william,  Suaminya nun jauh meninggalkannya untuk beberapa pekan masih ada di siangapore, ada sesuatu yang harus dipenuhi tapi sulit sekali dikatakannya, dan  godaan itu menjerumuskannya justru dengan kehadiran ray anak tirinya ray semakin jauh membelai tubuhnya.mbalikan tubuhnya dalam posisi ray dibelakang merengkuh dan meremas busungan dadanya yang sudah mengeras. bibir ray kembali menciumi punggungnya. dan meremas bokongnya. jemari-jemari itu masuk dari bawah kemejanya  melepa celana bertorso dengan mudahnya. kembali ray menciumi buah pantat yang montok dan sintal itu. sintya mengerang menahan gairah ketika lidah itu menjilati kemalusnnya..menghisap caian yang mentes dari bibir memeknya…kemeja ray terlepas memperlihatkan tubuhh bispavcknya…sintya menciumi perut dan meremas dibalik celana casual ray, lalu zippr itu terlepas risluitingnya..benda berurat mengeliattubuh sintya ddorongnya ketembok dan kembali bivirnya berpagutan sambil  kemerahan dalam yukuran mengidikannya.

Esoknya, Pertunangan itu akhirnya berjalan lancar dengan kebahagiaan keluarga Manuwijaya dan Mario malon, agness begitu cantik dengan berleher rendah warna putih model sackderss, sementara ray begitu elegan dengan tuxedo warna plum, rambutnya tipis cepak dengan wajah sangat tanpan mengingatkan bintang laga hongkong. Sintya hanya mempersaksikan sebuah ritual bisnis yang menurutnya terllau mewah di sebuah hotel berbintang dan nampak ada keterdiaman ray padanya. Disi lain lelaki kacamata tipis itu juga seskali memperhatikan dan saling mengenal. Tangan kanan keluarga mio malon yang secara diam-diam menyukainya, tapi luput dari perhatian sintya.

Berjalan lancar walau ada nada kemarahan ray dan ada ketidak peduliaan keluarga malon ridan malam yang penuh pesona bagi agness mendapat lelaki kebanggan sahabat ayahnya itu. Mereka berdansa tanpa hati dan tidak bisa dilacak oleh keluguan agness hanya sintya yang mengetahui ketidak seriusan putra tirinya. Ray kembali ke surabaya esoknya tanpa pamit dan sitya menelpon dengan penuh tanda tanya, tapi sintya harus menetukan pilihan terbaik untuk menghndari kerumitan yang sebenarnya sangat alami dan mungkin terjadi ditengah sebuah komunitas. Apalagi secara diam-diam diapun merasakan kegundahan dengan suasana diluar kendali dirinya dan bunyi mobil yang masuk mengagetkankannya, rupanya ray tidak jadi ke surabaya sore itu dan ditengah kesunyian rumah yang terlalu besar itu ada kerikuhan sintya dalam menghadapi itu semua.

Tak sepatah kata hanya tatapan permintaan yang sulit dihindari, lelaki muda itu terlalu..ray berlari ke balkon atas dan merengkuh tanpa ragu tubuh istri papanya itu..”jangan ray, aku isteri papamu”, kata-kata bias karena sintya membiarkan bibir lelaki itu mengulum penuh nafsu, jemari ray menesuri lekukan tubuh bertanktop dengan denim hitam sebetis..ciuman terhenti, ketika telepon berdering..”papa dirumah sakit, kena serangan jantung”. Sintya bersgegas ke rumah sakit sore itu dan melupakan kejadian sesaat…ray mala mnya mengok ayahnya yang didampingi ibu itrinya semalaman. Ray terdiam tapi hatinya gundah, tapi hasratnya semakin kuat terhadap wanita itu. Sintya keluar balkon VIV tanpa sepengetahuan ray, tapi lelaki itu mengtahuinya…”Tante marah padaku..ray hilap sekali, ray bingung untuk memutuskan…” Sintya tidak menyahut, tapi membelai kn membiarkan wajah lelaki muda epala itu dengan jmarinya dan mebiarkan bahunya jadi sandaran wajah dengn manja